Selamat
Datang di web site .LPMAk
adalah singkatan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro,
merupakan suatu lembaga yang bekerja untuk mengembangkan masyarakat asli di
Timika dan sekitarnya. Banyak hal-hal yang telah dilakukan oleh LPMAK di
Timika. Bentuk nyata dari pengembagan di bidang Kesehatan salah satunya adalah
RSMM (Rumah Sakit Mitra Masyarakat) dimana di Rumah Sakit tersebut masyarakat
asli Amungme dan Kamoro serta 5 kekerabatannya dapat berobat dengan murah (bahkan
gratis). Selain itu juga adanya dengan program air bersih saat ini di
daerah-daerah kabupaten Mimika yang kesulitan dalam mendapatkan air bersih.
Amungme
Suku
Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah
luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi
yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil
seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah
Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di
Agimuga dan kota Timika.
Secara
harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu
"amung" yang artinya utama dan "mee" yang artinya manusia,
menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari
derah Pagema (lembah baleim) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata kurima
yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama
kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang.
Orang
Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa
manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu
diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah
putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak
sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo.
Tingkah
laku dan watak orang Amungme identik dengan alamnya, mereka menggangap dirinya
penakluk, pengusa serta pewaris alam amungsa dari tangan Nagawan Into (Tuhan).
Kerasnya alam pegunungan telah membentuk karakter masyarakat Amungme menjadi
keras, non kompromi, fair dan gentlemen serta selalu melakukan tindakan
preventif dalam segala aktifitas.
Bahasa
daerahnya ada dua yaitu Amung-kal yang digunakan oleh orang Amungme yang hidup
disebelah selatan dan Damal-kal untuk orang Amungme yang hidup di sebelah
utara, selain itu suku Amungme juga memiliki bahasa simbol yang berbeda
dengan bahasa komunikasi sehari-hari yaitu Aro-a-kal adalah jenis bahasa simbol
yang paling sulit dimengerti dan dikomunikasikan, serta Tebo-a-kal sebagai
jenis bahasa simbol yang hanya diucapkan sewaktu berada di wilayah tertentu
yang dianggap keramat.
Konsep mengenai tanah, manusia dan lingkungan
alam mempunyai arti yang intergral dalam kehidupan sehari-hari. Tanah
digambarkan sebagai figure seorang ibu yang memberi makan, memelihara, mendidik
dan membesarkan dari bayi hingga lanjut usia dan akhirnya mati. Tanah dengan
lingkungan hidup habitatnya dipandang sebagai tempat tinggal, berkebun, berburu
dan pemakaman juga tempat kediaman roh halus dan arwah para leluhur sehingga
ada beberapa lokasi tanah seperti gua, gunung, air terjun dan kuburan dianggap
sebagai tempat keramat. Magaboarat Negel Jombei-Peibei (tanah leluhur yang
sangat mereka hormati, sumber penghidupan mereka), demikian suku Amungme
menyebut tanah leluhur tempat tinggal mereka.
Beberapa
model kepemimpinan suku Amungme yaitu menagawan, kalwang, dewan adat, wem-wang,
dan wem-mum, untuk menjadi pemimpin tidak ditentukan oleh garis keturunan,
seorang pemimpin dapat muncul secara alamiah oleh proses waktu dan situasi
sosial serta lingkungan ekologis yang mempengaruhi perilaku kepemimpinan
tradisonal pada tingkat budaya mereka sendiri.
Kontak
pertama dengan dunia luar terjadi pada tahun 1936 ketika ekpedisi Carstensz
yang pimpinan Dr.Colijn cs, melalui misi katolik pada 1954 yang dipimpin
oleh Pastor Michael Cammerer dibantu penduduk lokal bernama Moses Kilangin dan pemerintah
Belanda, sebagian besar masyarakat Amungme dipindahkan ke daerah pesisir, di
Akimuga sampai saat ini, alasan pemindahan disebabkan proses penyebaran agama
dan pelayanan terhadap masyarakat Amungme tidak mungkin dilakukan di daerah
pegunungan.
Sebagai
warga suku Amungme telah menetap di kota Timika dan sekitaranya karena proses
permukiman kembali oleh PT. Freeport Indonesia (PTFI), selain larangan membuka
perkampungan di dekat lokasi penambangan menyebabkan mereka bermigrasi ke
Timika sebagai alternatif mencari pekerjaan. Penduduk Amungme khususnya yang
berasal dari pegunungan Jayawijaya, telah mendapatkan fasilitas perumahan serta
lahan perkebunan dari PTFI. Namun banyak pula yang akhirnya memilih tetap
tinggal di kampung-kampung di sekitar pertambangan, yakni Kampung Banti, Waa,
Tsinga, Arwanop
Umumnya
suku Amungme telah menggunakan uang tukar resmi (rupiah) sebagai alat
jual-beli, tidak lagi menggunakan sistem barter. Barang-barang yang dijual
masih sangat terbatas, seperti: makanan pokok; petatas, keladi, umbi-umbian,
minyak goreng, sayur-mayur, alat jahit-menjahit sederhana, dan kebutuhan rumah
tangga sehari-hari lainnya seperti garam, sabun dan rokok.
Saat
ini budaya barter maupun alat tukar eral sudah tidak pernah lagi digunakan oleh
sebagian besar suku Amungme yang tinggal di perkotaan atau berdampingan dengan
budaya kota. Berbeda dengan masyarakat suku Amungme yang tinggal di pedalaman
bagian Utara, yaitu di daerah pegunungan masih menggunakan eral.
Eral
sendiri adalah sistem tukar - menukar barang dengan alat tukar sah yang diakui
masyarakat Amungme, berupa kulit bia (siput). Kulit bia ini diperoleh dengan
tukar-menukar barang dengan masyarakat yang tinggal di pantai. Setelah kulit
bia diperoleh, mereka membawa pulang ke tempat tinggalnya di pedalaman dan
membentuknya menjadi alat tukar suku.
Mata
pencaharian suku Amungme umumnya berburu karena ditunjang faktor alam dengan
berbagai jenis flora yang tumbuh lebat dan terdapat berbagai jenis fauna
seperti babi hutan, burung kasuari, burung mambruk, kakaktua, dll, bertani dan
bercocok tanam serta beternak, banyak di antara mereka telah bekerja di kota
sebagai pedagang, pegawai maupun karyawan
2013 LPMAK
No comments:
Post a Comment