Wednesday, October 22, 2014

PUISI BUAT RAKYAT BANGSA PAPUA

 
PUISI BUAT RAKYAT BANGSA PAPUA


Dalam tiupan angin sepoi ia melantunkan puisi buat negerinya rakyat bangsa papua barat. 

«Papua ibarat bunga bangkai». 
“Wahai bangsaku yang malang ....kita memiliki papua yang alami, dengan kecantikan burung cenderawasih yang mengecapkan sayapnya dengan gelembung-gelembung wangi. Papua adalah tanah dibawah bayang-bayang kesucian ilahi yang tak ...tersentuh siapapun kecuali TUHAN lewat “dosa sulung“ di pulau Mansiman. Papua adalah doa-doa bersayap yang membumbung ke langit putih mempersembahkan jiwa-jiwa dan tulang-tulang yang dibenamkan dibawah lumpur, dibukit gersang, didasar samudra yang dalam, dan dalam goa yang gelap gulita. PaPua adalah karangan bunga-bunga dukacita dari gadis-gadis desa yang diperkosa bertelanjangan dada. Papua adalah tanah dimana cenderawasih-cenderawasih hitam berlindung ketika gemetar ketakutan, sambil menantikan kematian yang terus berlari mengejar jiwa-jiwa. Papua adalah tanah yang berbaris dalam iring-iringan jenasah dengan ratapan yang menggugah rasa. Papua adalah kebenaran, keadilan yang di telanjangi, dan selalu diinjak oleh penguasa di troToar. Papua adalah ibarat api unggun dimalam hari yang dingin ketika kegelaPan diterangi gerhana bulan. Papua adalah nyanjian dan ratapan diujung malam, mengiringi seruling anak DANI yang kedinginan digubuk HONAI tanpa selembar selimut pemanas tubuh.

«Wahai Bangsaku yang malang.................................... Dengan doa dan air mata kita menjemput kemelaratan sambil bernyanyi mensyukuri nasib. Kita seperti budak-budak dibawah bayang-bAyang kematian karena rantai yang berkarat diganti dengan rantai “OTONOMI & UP4B“ yang mengkilap bagai hantu yang berjalan di dunia gaib. Adakah diantara kita yang berani menyatakan bahwa hidup kita dalam setetes darah di nadi papua atau setitik air mata di pelupuk, atau sekilas senyum dibibir? Seiring dengan waktu yang terus bergulir menjemput matahari, kita selalu berjalan dalam bayang-bayang kematian, untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kesempurnaan dengan jatih diri kita diatas bara api dalam lingkungan benang kusut politik yang tak pernah berakhir ujungnya.

»Wahai bangsaku yang malang....................................
 Adakah warisan buat anak cucu kita seratus tahun yang akan datang? Tangisihlah dirimu dan negerimu papua karena........bukit-bukit dan gunung-gunung emas habis terkuras untuk membangun pencakar-pencakar langit. Sumur-Sumur minyak terus mengalirkan berjuta barel untuk menerangi neraka yang gelap. Hutan-hutan hanya menyisikan pohon-pohon gundul tanpa kehidupan. Laut terus memuntakan butir-butir mutiara untuk membangun istana gorilla di benua kaca, dan kita hanya bisa berdiri menatap langit yang terbelah dengan cucuran air mata atau duduk dibawah jembatan mamberamo meratapi gerhana bulan yang diperkosa matahari

. »Wahai bangsaku yang malang....................................
 Apakah kita dapat percaya bahwa racun dapat membangkitkan hantu-hantu kematian, dan mengembalikan nafas mayat-mayat yang bergelimpangan ditanah papua? Puaskah kita dengan “Otonomi” jika kita hanya bahagia dengan gelembung-gelembung hampa yang bergerak dalam nafsu? Jiwa dan batin kita akan menjerit oleh cekikan para penguasa yang tak mungkin menjatuhkan sekeping gobang dari atap langit ketika kita berteriak........” Kami tak punya uang logam yang terjepit di tangan ” kita hanya bisa memungut nasib diatas sungai waktu yang dilindas masa silam, kini dan masa depan. 

»Wahai bangsaku yang malang.................................... 
Kepalsuan telah mengubah rambut kita menjadi kelabu, dan maut akan menjilat bibir-bibir kita dengan jilatan birahi yang mematikan jiwa jiwa kita bagaikan debu yang akan diterbangkan angin kepucuk langit bersama sayap-sayap cahaya berserahkan di atas puncak salju, dan prahara akan bergegas datang menghembuskan badai dari dasar samudra membinasakan untuk selamanya.

No comments: