PENGERTIAN
KEPEMIMPINAN
Beberapa
pakar telah memberikan definisi yang berbeda tentang kepemimpinan, antara lain:
Menurut
C. N Cooley ( 1902)
The leader is always the nucleus or tendency, and on the other
hand, all social movement, closely examined will be found to concist of
tendencies having such nucleus.
Maksudnya
pemimpin itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, pada
kesempatan lain, semua gerakan sosial kalau diamati secara cermat akan
ditemukan kecenderungan yang memiliki titik pusat.
Kepemimpinan
adalah suatu proses saling mendorong melalui keberhasilan interaksi dari
perbedaan individu, mengontrol daya manusia dalam mengejar tujuan bersama.
Dalam buku karangan Prof. Dr. Sudarwan Danim yang berjudul “Motivasi
Kepemimpinan&Efektivitas Kelompok”, menyebutkan beberapa definisi
kepemimpinan. Mc Farland (1978) dalam Sudarwan Danim (2004:55) mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi
perintah/pengaruh, bimbingan/proses mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam
memilih&mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jadi kepemimpinan merupakan
sebuah fenomena yang universal, dan merupakan fenomena yang kompleks sehingga
tidak ada satu definisi kepemimpinan yang dapat dirumuskan secara lengkap untuk
mengabstraksikan perilaku sosial/interaksi manusia di dalam organisasi.
TEORI
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
Teori
Otokratis dalam Kepemimpian Pemerintahan
Teori
otokratis adalah teori bagaimana seorang pimpinan pemerintahan dalam
menjalankan tugasnya bekerja tanpa menerima saran dari bawahan, perintah
diberikan dalam satu arah saja artinya bawahan tidak diperkenankan membantah,
mengkritik, bahkan bertanya.
Teori
sifat dalam kepemimpinan pemerintahan
Teori
sifat adalah teori yang mengatakan bahwa kepemimpinan tercipta dari seseorang
berdasarkan sifat-sifat yang dimiliki seseorang tersebut, berarti yang
bersangkutan sudah sejak lahir memiliki ciri-ciri untuk menjadi pemimpin.
Teori
Manusiawi dalam Kepemimpinan Pemerintahan
Teori
ini adalah teori yang pemimpinnya benar-benar merasakan bawahannya (baik rakyat
maupun staf) sebagai manusia yang dapat dimotivasi kebutuhannya sehingga
menimbulkan kepuasan kerja, untuk itu teori ini berkaitan dengan teori
motivasi.
Teori
Perilaku Pribadi
Teori
ini merupakan teori dimana pemimpin melakukan pendekatan pada bawahan melalui
cara-cara formal yang tidak resmi, dengan begitu perintah biasanya dilakukan
secara lisan dan bukan tertulis.
Teori
lingkungan
Teori
ini memperhitungkan ruang dan waktu, berbeda dengan teori sifat yang mengatakan
pemimpin itu dilahirkan (leader is born) maka dalam teori ini
pemimpin dapat dibentuk. Yang dimaksud dengan ruang adalah tempat lokasi
pembentukan pemimpin itu berada, misalnya diwaktu kecelakaan pesawat maka pilot
begitu dibutuhkan, disuatu lokasi kerumunan masa maka seseorang yag bersuara
keras akan dapat lebih didengar. Yang disebut dengan waktu adalah saat yang
tepat ketika bentukan pimpinan pemerintahan itu terjadi atau dipertahankan,
misalnya di Irak yang sering melakukan invansi atau diserbu pihak lain maka
rakyat membutuhkan seorang pemberani seperti Saddam Husain untuk cukup lama
jadi presiden.
teori
situasi
teori
ini merupakan teori dimana pemimpin memanfaatkan situasi dan kondisi bawahannya
dalam kepemimpinannya yaitu dengan memperhatikan dukungan (supportif) dan
pengarahan.
Teori
pertukaran
Teori
pertukaran dalam kepemimpinan pemerintahan adalah teori dimana pemimpin
pemerintahan dalam mempengaruhi bawahnnya memakai strategi take and
given yaitu sebagai berikut:
Ketika
atasan hendak memberikan perintah maka selalu diutarakan bahwa bila berhasil
akan dinaikkan gaji, atau sebaliknya sebelum penerimaan suatu honor lalu
pemimpin mengutarakan bahwa selayaknya bawahan bekerja lebih rajin, dengan
demikian akan menjadi bawahan yang tahu diri.
Teori
Kontingensi
Adalah
teori yang berpatokan pada tiga hal yaitu hubungan atasan dengan bawahan (leader
member relation), struktur/orientasi tugas (task struktur) dan
posisi/wibawa pemimpin (leader position power) yang
dikemukakan oleh Fred Fiedler (1976) dalam bukunya A Theory of Leadership
Effective.
Dr.
Kartini Kartono dalam bukunya “Pemimpin dan Kepemimpinan” juga menyebutkan
macam-macam teori kepemimpinan seperti diatas. Akan tetapi Dr. Kartini Kartono
menambahkan beberapa macam teori yaitu teori psikologis, teori sosiologis,
teori suportif, dan teori laissez faire. Teori psikologis menyatakan bahwa
fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi
terbaik, untuk merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah.
Teori sosiologis menyatakan bahwa kepemimpinan dianggap sebagai usaha untuk
melancarkan antar relasi&menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara
para pengikutnya, agar tercapai kerjasama yang baik. Teori suportif menyatakan
bahwa para pengikut harus sekuat mungkin&bekerja dengan penuh gairah,
sedang pemimpin akan membimbing dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu.
Sedangkan teori laissez faire menyatakan bahwa pemimpin laissez faire pada
intinya bukanlah pemimpin yang sebenarnya. Pemimpin laissez faire ditampilkan
oleh “ketua dewan” yang sebenarnya tidak becus mengurus dan dia menyerahkan
semua tanggung jawab serta pekerjaan kepada bawahan/semua anggotanya. Beliau
tidak mencantumkan teori lingkungan, teori pertukaran dan teori kontingensi.
Sedangkan
Prof. Drs. S. Pamudji, MPA dalam bukunya yang berjudul “Kepemimpian
Pemerintahan di Indonesia” hanya mengemukakan teori-teori kepemimpinan yang
dianggap penting saja yaitu teori serba sifat (traits theory),teori
lingkungan (environmental theory),(personal-situational theory), teori
interaksi dan harapan (interaction-expectation theory) teori
humanistik (humansitic theory),dan teori tukar menukar (exchange
theory.) teori pribadi dan situasi
GAYA
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
a.
gaya demokratis
adalah
cara dan irama seseorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan masyarakatnya
dengan memakai metode pembagian tugas secara merata dan adil, kemudian
pemilihan tugas tersebut dilakukan secara terbuka, antar bawahan dianjurkan
berdiskusi tentang keberadaannya untuk membahas tugasnya, baik bawahan yang
teredah sekalipun boleh meyampaikan saran serta diakui haknya, dengan demikian
dimiliki persetujuan dan konsensus atas kesepakatan bersama.
gaya
birokratis dalam kepemimpinan pemeritahan
gaya
birokratis adalah cara dan irama seorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode tanpa pandang bulu, artinya setiap bawahan
harus diperlakukan sama disiplinnya, spesialisasi tugas yang khusus, kerja yang
ketat pada aturan (rule), sehingga kemudian bawahan menjadi
kaku tetapi sederhana (zakelijk).
gaya
kebebasan
merupakan
gaya dan irama seorang pemimpin pemerintahan dalam menghadapi bawahan dan
masyarakatnya dengan memakai metode pemberian keleluasaan pada bawahan
seluas-luasnya, metode ini dikenal juga dengan Laissez faire atau libelarism. Dalam
gaya ini setiap bawahan bebas bersaing dalam berbagai strategi ekonomi,
politik, hukum dan administrasi.
gaya
otokratis
adalah
cara dan irama seorang pemimpin dalam menghadapi bawahan dan masyaraktnya
dengan metode paksaan kekuasaan (coercive power)..
Prof.
Dr. Sondang P. Siagian, MPA dengan bukunya “Teori&Praktek Kepemimpinan”
mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang tidak bisa berubah menghadapi
situasi bagaimanapun. Jika seorang pemimpin memiliki ciri-ciri kepemimpinan
yang otokratik, gaya kepemimpinannya pun akan otokratik pula, terlepas dari
situasi yang dihadapinya. Sebaliknya, seseorang yang pada dasarnya berpandangan
demokratik akan secara konsisten menggunakan gaya kepemimpinannya yang
partisipatif meskipun situasi organisasional yang dihadapinya sesungguhnya
menuntut gaya kepemimpinan yang lain. Menurut teori situasional, seorang
pemimpin yang paling otokratik sekalipun akan mengubah gaya kepemimpinannya
yang otokratik itu dengan gaya lain, misalnya agak demokratistik tergantung
situasi. Sebaliknya seseorang yang menggunakan gaya kepemimpinan yang
demokratik mungkin saja bertindak otoriter apabila situasi menghendakinya.
Prof. Sondang Siagian berpendapat bahwa teori yang sangat dominan tentang
kepemimpinan yang efektif dewasa ini adalah teori kepemimpinan yang situasional
atau teori kontingesi “contingency theory”
Sedangkan
menurut Drs. Pamudji, nampaknya telah terjadi pencampur-adukan antara gaya
kepemimpian dengan tipe kepemimpinan. Misalnya gaya otokratis, oleh Drs.
Pamudji dimasukkan ke salah satu tipe, yaitu tipe otokratis, sedangkan gaya
partisipatif dan gaya kebebasan dimasukkan ke dalam tipe demokratis. Di samping
tipe-tipe otokratis dan demokratis, masih dijumpai tipe-tipe lain seperti tipe
militeristik, paternalistik, karismatis, tradisional, rasional/birokratis dan
lain-lain. Dalam bahasan gaya kepemimpinan, sering dibedakan antara gaya
motivasi (motivation style), gaya kekuasaan (power style), dan gaya pengawasan
(supervisory style). Jadi menurut Drs. Pamudji, gaya kepemimpinan dapat
dibedakan menjadi gaya motivasi, kekuasaan, dan pengawasan.
VARIABEL
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
variabel
situasi dan kondisi pemerintahan
ada
tujuh situasi dan kodisi yang menyebabkan pemimpin pemerintahan harus otokrasi
atau demokrasi yaitu: faktor sifat dan bentuk negara, faktor geografis, faktor
warga negara, faktor sejarah, faktor efisiensi dan efektivitas, faktor politik,
faktor rezim yang berkuasa. Situasi dan kondisi dapat menentukan bagaimana
seorang pemimpin pemeritahan seharusnya akan bertindak, bahkan pada situasi dan
kondisis tertentu dapat melahirkan pemimpin.
variabel
orang banyak sebagai peganut
orang
banyak yang dikenal sebagai rakyat jelata memang selama ini dikenal diam hanya
saja jumlahnya sangat banyak, maksudnya bila terjadi demonstrasi , maka
kemarahan orang banyak sulit dibendung dan bisa menggulingkan kekuasaan
pemimpin yang tirani. Oleh karena itu masa di negara kita sekalipun musti
dekanali, perlu dikenali tuntutannya, dikenali budaya sehari-harinya, dikenali
seberapa kuat pengerahannya serta prediksi dampak positif serta ekses
negatifnya.
variabel
penguasa sebagai pemimpin
pemimpin
pemerintahan adalah penguasa tetapi perlu diingat bahwa bagaimanapun yang
bersangkutan memiliki kekuasaan, namun tetap saja sebagai manusia mempunyai
jiwa, jiwa itulah yang memiliki rasa seperti iba, kasih sayang, benci, dendam
dan lain-lain.
Drs.
Pamudji juga mengemukakan variabel-variabel kepemimpinan sama seperti dengan
yang dikemukakan oleh Drs. Inu Kencana Syafe’i.
TEKNIK
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN
teknik
persuasif dalam kepemimpinan pemerintahan
adalah
strategi dalam pimpinan pemerintahan camat, bupati, gubernur, ataupu walikota
membujuk bawahannya untuk bekerja lebih rajin. Bujukan dilakukan degan lunak
dan lemah lembut.
teknik
komunikatif dalam kepemimpian pemerintahan
adalah
strategi pemimpin dalam memperlancar pekerjaannya mencapai tujuan melakukan
hubungan sesuai dengan kaidah ilmu komunikasi yaitu apa yang diiginkan oleh
pemerintah sebagai jalan pemberi pesan sama dengan apa yang diterima bawahan
dan masyarakat.
teknik
fasilitas dalam kepemimpina pemerintahan
adalah
strategi pemimpin dalam memberikan fasilitas pada bawahan atau masyarakatnya
untuk memperlancar pekerjaan karena bawahan dan masyarakat tersebut terikat
oleh pemberian tersebut.
teknik
motivasi dalam kepemimpinan pemerintahan
adalah
strategi pemimpin mendorong bawahan dan masyarakatnya bekerja serta membangun
lebih rajin.
teknik
keteladanan dalam kepemimpian pemerintahan
adalah
strategi pemimpin pemerintahan untuk memberikan contoh atau teladan yang baik
kepada bawahannya maupun masyarakatnya sendiri. Menurut Drs. Pamudji, teknik
kepemimpinan adalah suatu cara yang merupakan pola tetap utuk mempengaruhi
orang-orang agar bergerak ke arah yang diinginkan oleh pemimpin. Drs. Pamudji
mengemukakan macam-macam teknik kepemimimpinan antara lain: a. teknik
pematangan/penyiapan pengikut; b. teknik human relation; c. teknik menjadi
teladan; d. teknik persuasi dan pemberian perintah; e. teknik penggunaan sistem
komunikasi yang cocok; f. teknik penyediaan fasilitas. Teknik yang dikemukakan
oleh Drs. Inu Kencana dan Drs. Pamudji pada dasarya adalah sama. Tetapi Dr.
Kartini Kartono mengemukakan bahwa teknik kepemimpinan adalah kemampuan dan
keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan teori-teori
kepemimpinan pada praktik kehidupan serta praktik organisasi. Teknik
kepemimpinan juga dapat dirumuskan sebagai cara bertindaknya pemimpin dengan
bantuan alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis untuk mewujudkan
kepemimpinannya. Sehingga yang masuk ke dalam kategori teknik kepemimpian
adalah:
etika
profesi pemimpin dan etiket
kebutuhan
dan motivasi
dinamika
kelompok
komunikasi
kemampuan
pengambilan keputusan
keterampilan
berdiskusi dan “permainan” lainnya
PEMERINTAHAN
INDONESIA
sebelum
kemerdekaan
Di
masa penjajaha/sebelum merdeka, perlawanan bagsa Indonesia selalu gagal
meskipun berkali-kali melakukan perlawanan. Hal yang menyebabkan gagalnya usaha
Idonesia adalah pemimpin peperangan bergerak sendiri-sendiri, tidak bersatu
dengan pemimpin dari berbagai kerajaan. Pemimpin lebih suka bergerak sendiri
dan atas nama daerahnya. Kebanyakan pemimpin kerajaan mudah diadu domba satu
sama lain.
setelah
merdeka
masa
pemerintahan Presiden Soekarno
Dalam
kepemimpinannya, Indonesia telah beberapa kali terjadi perubahan konstituante.
Sistem pemerintahan juga berubah-ubah. Demokrasi liberal, demokrasi terpimpin,
dicoba tapi semua gagal. Bahkan Pacasila sebagai dasar negara diringkas menjadi
Tri Sila, dan akhirnya menjadi Eka Sila. Ada semboyan yang digembar-gemborkan
masa itu untuk menggantikan pancasila yaitu Nasakom (nasioal, agama, komunis).
Campur tangan Belanda masih sangat kental. Pada masa ini banyak sekali
penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh Presiden. Presiden Soekarno
cenderung ke komunis yang akhirnya menyebabkan pergolakan besar di negeri ini.
Puncaknya adalah pemberontakan G30 SPKI.
Presiden
Soeharto
Soeharto
berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Gaya kepemimpinan beliau dianggap
otokratis karena selama kepemimpiannya banyak sekali manipulasi, pengebirian
DPR, korupsi dan semua perintah dan keinginannya selalu terpenuhi. Semua elemen
dan lembaga negara tunduk dibawah kekuasaan beliau. Tidak ada yang berani
mengkritik atau melawan karena bisa dihukum. Pada tiga dasawarsa, pembangunan
yang dirancang beliau dinilai berhasil namun ada sebagian pihak yang mengatakan
bahwa keberhasilan pembangunan itu bersifat semu dan kamuflase. Di dua tahun
akhir kepemimpinannya mulai terjadi pergolakan yang menuntut beliau mundur.
Akhirnya Soeharto berhasil dilengserkan pada tanggal Mei 1998.
Presiden
Habibie
Habibie
menjadi presiden menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri. Namun di masa
kepemimpinan beliau, belum mampu membawa perubahan ke arah lebih baik.
Pemerintahan Habibie memang tidak sama dengan Soeharto. Akan tetapi beliau
mengucapkan bahwa beliau merupakan murid Soeharto. Karena ucapan tersebut,
timbul pergolakan yang mengakibatkan Habibie tidak lama memerintah Indonesia
Abdurrahman
Wahid, Megawati Soekarno Putri, dan susilo Bambang Yudhoyono
Ketiga
tokoh itu adalah pemimpin yang mengemban tugas untuk meneruskan cita-cita
reformasi. Masing-masing pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Tetapi ketiga pemimpin tersebut belum mampu mewujudkan cita-cita
reformasi. Bahkan pada masa Megawati Soekarno Putri, Indonesia kehilangan dua
pulau yang berharga bagi Indonesia yaitu Sipadan dan Ligitan. Susilo Bambang
Yudhoyono dipandang juga belum mampu mengubah kondisi bangsa Indonesia yang
sudah terpuruk ini. Beliau dipandang tidak kompak dengan wakilnya Jusuf Kalla.
Bahkan kepemimpinan beliau amat bertolak belakang dengan wakilnya tersebut. SBY
dipandang cukup hati-hati dalam memutuskan sesuatu, bertele-tele, kurang tegas
dan greget. Sedangkan Jussuf Kalla tegas, langsung ke tujuan tanpa basa-basi,
cepat mengambil keputusan dan tegas. Ini dikarenakan SBY berasal dari suku Jawa
sedangkan Jussuf Kalla berasal dari Makassar dimana orang-orangnya terkenal
tegas.
PERBANDINGAN
KEPEMIMPINAN PEMERINTAHAN DI LUAR NEGERI
kepemimpinan
pemerintahan di Amerika Serikat
Amerika
Serikat adalah negara federal, maka sistem pemeritahan daerahnya berbetuk
negara bagian yang terpisah sama sekali dengan negara induknya bahkan di negara
bagian mempunyai undang-undang sendiri. Kebebasan mausia sangat dijunjung
tinggi. Di amerika sudah tidak kaget lagi ditemukan kasus perkosaan,
pencabulan, seks bebas, judi, homosex, dekadensi moral dan lain-lain. Itu semua
sudah menjadi rahasia umum karena di negeri ini kebebasan adalah yang utama.
kepemimpinan
pemerintahan di Jepang
politik
kepemimpian pemerintahan Jepang tidak membicarakan perseorangan tetapi tim
kerja. Bangsa Jepang sangat membanggakan groupnya, alamamaternya, bahkan
negaranya. Begitu cintanya bangsa Jepang terhadap negerinya, maka siapa saja
yang bersalah dituntut untuk bunuh diri. Jadi bila seorang pemimpin di Jepang
bersalah, maka secara sadar yang bersangkutan mengundurkan diri secara sportif.
Kepemimpinan
di Arab Saudi
politik
Arab Saudi memperlihatkan bahwa kekuasaan masih akan sulit bergeser/pindah dari
keluarga Ibnu Saud/keluarga kerajaan walaupun mereka saling membunuh. Tetapi
bagaimanapun perilaku pimpinan pemerintahan negeri ini, pemimpin bisa berlaku
adil dan umat islam di seluruh dunia selalu merindukan untuk mengunjungi negeri
ini. Di negara ini tidak ada partai oposisi. Peradilan tertinggi dipegang oleh
Mahkamah Banding yang sumber hukumnya berasal dari Al Qur’an. Hukum disini
sangat dijunjung tinggi dan selalu ditegakkan
No comments:
Post a Comment